Sunday, April 8, 2012

Cerita Kartinian 2011

Setiap ada kegiatan, Mapagama selalu mewajibkan anggotanya menulis cerita perjalanan. Entah evaluasi atau kejadian lucu, puisi atau prosa, panjang atau pendek, bagus atau jelek, yang penting itulah perjalanan kita.

Nah, cerita perjalanan saya muncak Pangrango pertama kali ini, bersama dengan puisi saya tentang Pangrango, ditulis waktu masih awal masuk Mapagama. Gatel karena cuma saya yang mengkonsumsi, saya posting di sini. Yah, cara menceritakannya agak wagu dan kesannya nggak dinamis (???), but still, I wrote this. Enjoy :)




Cerita di Bulan April: Para Penyibak Kabut Memotret Kehidupan Kartini di Lereng Gunung Pangrango
Oleh Chairumi Tyas Satiti

Kami berjumlah dua belas orang pada awalnya—para perempuan dari Mapagama (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada) yang mengkonsepkan sebuah acara dalam rangka memperingati hari kartini tahun 2011. Kami bersepakat untuk membuktikan kepada publik: kami bisa mendaki Gunung Pangrango. Segala persiapan kami lakukan untuk mewujudkan rencana memotret kehidupan kartini di Pangrango.

Rabu, 20 April 2011 (Kami datang, Pangrango!)

Rombongan kami berjumlah 19 orang, 11 kartini Mapagama, 7 orang "pendamping" pria, dan 1 teman dari Panta-rhei bernama Yudhis. Rencananya, hari Rabu sore kami berangkat dengan kereta menuju stasiun Pasar Senen. Saya packing mulai pagi hari karena saya membutuhkan waktu yang lama untuk mengepak barang-barang bawaan ke dalam carrier. Menjelang zuhur, di Lembah UGM, karena keteledoran, saya mengalami kecelakaan dengan sepeda motor yang mengakibatkan kaki saya lecet lumayan parah di bagian bawah lutut dan engkel kaki kiri. Karena tangan kanan saya juga masih sakit digerakkan, akhirnya saya meminta bantuan Iyut untuk menjemput saya dan kami berangkat bersama ke Aquarium (Sekretariat Mapagama).

Suasana Aquarium Mapagama menjadi sibuk akibat aktivitas teman-teman yang bersiap ke Pangrango. Kereta Progo yang akan kami tumpangi dijadwalkan berangkat pukul 16.45 WIB dari Stasiun Lempuyangan. Kamipun segera menuju stasiun setelah berdoa bersama. Sampai di stasiun kami menunggu Mba Ayu sebentar sampai kami memutuskan untuk berangkat lebih dulu dan Mba Ayu menyusul dengan kereta bisnis. Kedengarannya aneh, tetapi saya menikmati suasana dalam kereta dengan latar belakang suara kereta yang berisik, orang menawarkan dagangan sepanjang waktu, dan mereka yang sibuk bertengkar.

Kamis, 21 April 2011 (Selamat Hari Kartini!)

Kami tiba di Stasiun Pasar Senen saat matahari belum terbit. Kami semua kelihatan kucel dan capek setelah menempuh perjalanan panjang dengan kereta ekonomi dari Jogja sampai Jakarta. Beberapa saat kemudian Mba Ayu datang dan kamipun berjalan beriringan menuju halte transJakarta.

Makan pagi kami nikmati di sebelah halte. Dipandu Bang Ojit dan dua teman Bang Fadlih, kami menaiki bus transJakarta.

Saat harus berganti bus, Rohmat mengalami insiden. Ia membawa dua carrier, miliknya di belakang dan milik Iyut di depan (karena Iyut membawa daypack berisi peralatan potret-memotret). Ketika akan masuk bus, kakinya jatuh di celah antara batas halte dan bus. Badannya ikut jatuh sedangkan dua tas besarnya tetap di atas. Dengan penampilan kusut dan sandal jepit swallow, insiden ini membuat Rohmat kelihatan melas. Saya dan teman-teman merasa iba tapi tetap tertawa geli. Saya baru tahu pulangnya kalau Mba Laras juga mengalami sedikit insiden di bus. Ceritanya, dia merapikan carrier-carrier kami di pintu dan tidak tahu kalau dia menyandarkan carrier-carrier kami di pintu, sampai ada orang yang mengingatkannya. Pada akhirnya orang itu bertanya pada Mba Laras, “Dari mana Mba?”
Mba Laraspun menjawab, “Jogja Mas,”

Rasanya Jogja terdengar ndeso sekali.

Setelah menaiki bus dari Kampung Rambutan sampai Cibodas dan berjubelan di angkot menuju base camp Green Ranger, akhirnya kami bisa beristirahat dan saya bisa mandi. Airnya dingin sekali sehingga terasa segar di badan. Setelah itu saya dan Iyut dibantu Mas Aries berkeliling ke sekitar basecamp untuk mencari objek yang bisa didokumentasikan. Kami bertemu Ibu Enung, ibu satu anak yang bekerja mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual ke pengepul di bawah lereng setiap hari.
Jam sebelas pagi, Mba Tika, teman Mba Laras dari Tazkya, datang ke basecamp. Kemudian rombongan kami bersama Bang Ojit, Mba Tika, serta Bang Ode berangkat naik Pangrango via jalur Cibodas. 
Selama perjalanan naik melewati Telaga Biru hingga berhenti untuk makan siang, selain menjumpai pendaki-pendaki, saya melihat orang-orang pacaran dan anak-anak SMA dengan entengnya turun-naik tanpa bawaan. Trek yang kami lewati mirip tangga dan terawat karena jalur yang kami pakai termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Kami juga melewati jalan berkayu dengan tanaman indah di kanan-kiri jalan yang di bawahnya terdapat sungai. Saya dan Mba Tanti menyebut jalan itu ‘Jembatan Pre-Wedding’ karena suasana dan pemandangannya yang romantis sangat cocok dijadikan latar foto pranikah.

Rasanya lama sekali kami berjalan menuju campground di Kandang Badak. Kaki saya sempat kram dan pandangan saya kabur saat melewati air panas (yang ternyata benar-benar panas). Sampai di Kandang Badak, kami segera mendirikan tiga tenda untuk bermalam. Saat itu sudah lewat jam sembilan dan saya merasa lega sekali kami sampai di Kandang Badak. Kami makan dan beristirahat, mempersiapkan diri untuk perjalanan besok.

Jumat, 22 April 2011 (Menuju puncak)

Sayang sekali, Mba Ayu dan Mba Viema tinggal di Kandang Badak sementara sisa dari kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Medan yang ditembus lumayan sulit di mata pemula seperti saya. Mungkin karena melihat saya kelelahan, Bang Ojit menawari saya untuk berganti bawaan. Awalnya saya menolak, malu. Tapi kemudian daripada saya menyusahkan yang lainnya juga, akhirnya saya gantian dengan Bang Ojit. Carriernya lumayan enteng dibanding milik saya. Sayapun lebih cepat mendaki, melewati rintangan dan mengabaikan udara dingin dan basah setelah hujan (ciee bahasanya).

Setelah lama mendaki, saya berteriak memanggil nama Iyut. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup jawaban sampai akhirnya saya sampai di puncak Pangrango. Saya dan Uus senang sekali, ini adalah kali pertama kami menginjak puncak gunung seumur hidup kami.

Puncak Pangrango lebat oleh pepohonan serta berkabut. Katanya, Lembah Mandalawangi bisa ditempuh dalam waktu 5 menit. Malamnya semua sudah di puncak kecuali Jaka, Mba Viema, dan Mba Ayu. Kami mendirikan tenda, memasak, buang hajat, dan makan sebelum tidur.

Sabtu, 23 April 2011 (Perjalanan belum berakhir)

Pagi-pagi saya terbangun dan keluar untuk melihat pemandangan. Gunung Gede terlihat jelas dari puncak. Saya, Iyut, Yulia, Uus, Mas Hendro, dan Mas Aries mengambil foto sementara Faruq, Rohmat, Samid, dan Zul memasak nasi goreng. Beberapa lama kemudian kami makan bersama sebelum turun ke Lembah Mandalawangi.

Sebelum turun, kami berganti kostum: para Kartini memakai kebaya dan jarik ataupun rok batik dan para Kartono memakai baju batik formal. Ini adalah momen yang saya tunggu-tunggu: berfoto dengan kebaya di ketinggian hampir 3000 mdpl! Sampai di Mandalawangi, kami menjadi pusat perhatian pendaki-pendaki lain dari berbagai wilayah Indonesia yang berkumpul di alun-alun ini. Kami menemui beberapa pendaki wanita dan mengambil dokumentasi kegiatan (video dan foto) serta memotret dan mewawancarai “Kartini” di Lembah Mandalawangi. Kami juga berziarah sejenak dan mengambil air. 

Siangnya kami kembali meneruskan perjalanan turun lewat jalur yang sama dengan perkiraan enam jam sampai ke basecamp. Saat itu jalur turun kami ramai oleh pendaki dan kami mengambil beberapa potret perempuan-perempuan yang mendaki Pangrango. Langkah kami tetap terus ditemani kabut dan hujan.  Kami sempat beristirahat sejenak di Kandang Badak kemudian melanjutkan perjalanan turun hingga pukul 21.00 WIB. Malamnya kami menginap di kontrakan teman Mba Tika di kawasan Sentul. Kami makan, membersihkan diri, dan tidur.

Minggu, 24 April 2011- Senin, 25 April 2011 (Waktu pulang Jogja kembali)

Kami pulang setelah jam 2 dengan angkot carteran dan kereta kota. Saya setengah tertidur dalam kereta, memandangi deretan gedung yang kontras dengan rumah-rumah kumuh di sekelilingnya. Kami turun di stasiun Jakarta Kota untuk menunggu Mba Laras dan Mba Tika yang membeli tiket kereta ke Jogja di stasiun sebelumnya. Kami mendapat tiket duduk dan berdiri, dan sudah pasti yang akan berdiri adalah para Kartono. Setelah itu kami kembali naik KRL menuju stasiun Pasar Senen.

Di Pasar Senen, saya dan Iyut jalan-jalan untuk mencari objek foto dan membeli makanan pengganjal perut. Selama dua jam menunggu kereta tiba, kami tidur-tiduran di antara ransel, memotret, dan bercakap bersama anak-anak yang setiap sore sampai malam berjualan koran lama di sana. Kereta Progo datang jam sembilan malam dan saya segera tertidur.

Ketika saya terbangun pagi harinya, kami semua masih terlihat lelah dan kumal. Kami tiba di Lempuyangan sekitar pukul 07.30 WIB. Kami segera cuci alat dan membereskan barang pribadi. Saya dan Iyut pulang lebih dulu dengan transJogja karena akan kuliah. Sampai di rumah saya mandi dan tertidur sampai sore sehingga saya tidak pergi kuliah hari itu (haha).

Saya bahagia sekali bisa mendaki Pangrango bersama teman-teman. Saya masuk Mapagama karena ingin merasakan naik gunung seperti Soe Hok Gie. Akhirnya keinginan saya untuk mengunjungi Lembah Mandalawangi dan makan coklat di sana (seperti Soe Hok Gie) tersampaikan. Meskipun kata senior, Mandalawangi nggak sebegitu bagus, tapi saya senang sekali dan saya menikmati perjalanan “menyibak kabut” ini. Saya mendapat banyak pengalaman baru dan pelajaran dari kegiatan Kartini Mapagama Untuk Bumiku II ini.

Saya tidak mendapat suatu yang sia-sia dalam perjalanan ini. Setiap detik yang dilalui begitu bermakna. Kami semua berbeda karakter bahkan mungkin berbeda tujuan, tetapi kami sama-sama menghormati R.A. Kartini dan jejaknya yang ditinggalkan yang begitu menginspirasi. Selamat ulang tahun Ibu Kartini, kita tidak pernah bertemu, tetapi kami mengenalmu.

Dan ini foto-foto dari sana:
dari kiri ke kanan: Jaka, Mba Tanti, Mas Hendro, Mba Laras Srowot


Kartini MAPAGAMA: mewarnai Mandalawangi dengan kebaya


ini saya, bareng edelweiss :D


foto di Puncak, entah siapa yang ngambil tapi saya suka foto ini. mungkin karena pose Iyut yang ceria membelakangi Uus yang termenung sambil jongkok.

6 comments:

  1. you're so lucky, my friend :)

    ReplyDelete
  2. judulnya, kartinian 2012 atau emang betul 2011?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sori nduk komenku yg ini ga nyambung. seingatku kita sdh melewati 21april2012, tp setelah diingat2 heiiii ini kan baru tgl 13 *tepok jidat*

      Delete
  3. thank you alin. hehe kebanyakan belajar kamu lin, aku menantikan postingan2mu lho.
    kita sama2 di Jogja tapi kok ga pernah ketemu di Jogja yaa *gelenggeleng

    ReplyDelete
  4. ket ket kui critaku tibo ng selter busway kok detail banget siiiiiii! mbok rodo disensor sitik

    ReplyDelete
  5. hahaha baiklah kapan2 ya mad :p
    aku mau membarui blog habis bulan agustus ni

    ReplyDelete

gimana menurut kamu?